- BeritaPetani dan Nelayan Luwu Keluhkan Distribusi Barcode BBM Bersubsidi, Desak Transparansi Penyaluran
- BeritaSatlantas Polresta Tanjungpinang Gelar Razia Gabungan Bersama Polisi Militer, Dispenda, dan Jasa Raharja
- AdvertorialSerah Terima Dandim 05/07 Bekasi, Kolonel Infanteri Supri Siswanto Nahkodai Kodim 05/07 Bekasi Saat Ini.
- BeritaDukung Penegakan Hukum Adil di Setokok, Ketua GRIB JAYA Kepri: Tanggung Jawab PT. MIG PERKASA INDUSTRI Mutlak — Keluarga Almarhum Mohon Bantuan
- BeritaAliansi Gunung Ungaran dan Telomoyo Buka Posko Advokasi Geothermal, Kantor Hukum Sugiyono S.E., S.H., M.H. dan Rumah Solusi Turun Gunung – GMOCT: #SaveGunungUngaran
- BeritaDorong Fasilitas Publik Batang, Rizal Bawazier Boyong CSR BNI ke Lapangan Cokronegoro Limpung

Kaijo: Ritual masyarakat Adat Mbay untuk Menghentikan Serangan Hama dan Menjaga Keseimbangan Ekosistem
Nagekeo, vokalpublika.com – Kaijo merupakan sebuah ritual adat dalam komunitas masyarakat adat Mbay yang berisi nyanyian berupa pantun dan tarian selama 5 malam secara berturut-turut.
Ritual Kaijo ini diyakini masyarakat adat Mbay memiliki kekuatan magis religius hingga terbukti secara turun-temurun mampu menghentikan dari setiap serangan hama.
Tujuan dari Kaijo itu sendiri untuk menyelamatkan hasil panen, ketahanan pangan di tingkat lokal, dan menjaga keseimbangan ekosistem.
Muhayam Amir yang merupakan salah satu tokoh dari masyarakat adat Mbay menceritakan bahwa ritual ada Kaijo lahir sebagai akibat dari datangnya serangan hama terhadap tanaman pertanian.
Di awal peristiwa ini, masyarakat adat Mbay merespon dengan cara-cara yang sangat emosional seperti mencaci, menghujat, bahkan sampai pada membakar dan memusnahkan tempat-tempat tertentu yang dianggap sebagai tempat berkembang biaknya hama-hama tersebut.
Ekspresi emosional ini kemudian dilakoni selama ritual Kaijo, namun cara ini lambat laun ternyata tidak menyelesaikan persoalan hama, justru serangan hama semakin masif dan sampai berdampak pada gagal panen dan terjadinya kelaparan di mana-mana.
Dalam situasi sulit dan terpuruk, para leluhur hanya bisa pasrah secara total pada sang pencipta. Suatu ketika, dalam renungan panjang mereka, pada akhirnya mereka mendapatkan sebuah petunjuk (dalam bahasa Mbay: Toingnot) bahwa tidak ada cara lain kecuali membuat ritual untuk mengembalikan keseimbangan lingkungan.
Dengan bekal kematangan emosional dan kesadaran berpikir yang tinggi, mereka mampu menemukan sebuah konsep ritual yang dikenal dengan nama Kaijo.
Dalam bahasa Mbay, Kaijo terdiri dari dua suku kata yaitu “Kaik” dan “Jo’o”.
Kaik artinya membiarkan, sementara Jo’o artinya menghentikan. Kaik dan Jo’o kemudian dirangkaikan menjadi satu kata yaitu Kaijo.
Leluhur masyarakat adat Mbay pada zamannya memandang hama-hama tersebut adalah makhluk yang diciptakan Tuhan dengan tujuan tertentu, sehingga hama-hama tersebut tidak boleh dimusnahkan dengan dalil apapun.
Sehingga dalam ritual Kaijo, hama-hama tersebut ditangkap dan dibiarkan hidup sampai pada saatnya tiba baru disingkirkan secara hidup-hidup ke tempat asa-usulnya yang mana tempat tersebut dipercaya sebagai asal muasal hama.
Dalam tradisi masyarakat adat Mbay, Kaijo salah satu ritual tahunan yang dilakukan dengan tujuan untuk menghentikan setiap pergerakan hama yang menyerang tanaman pertanian.
Upaya ini dilakukan dengan cara berdasarkan kearifan lokal yaitu menyingkirkan hama-hama tersebut secara alami ke tempat asalnya melalui sebuah ritual yang di sebut Kaijo
Metode penyingkiran hama ini dilakukan dengan menangkap berbagai jenis hama dalam keadaan hidup, lalu dimasukkan ke dalam sebuah wadah yang terbuat dari bambu atau dalam bahasa Mbay biasa disebut Teru.
Dalam ritual ini, semua petani wajib membawa hama-hama yang sudah dimasukkan dalam Teru-teru itu dan digantung di sekeliling Ngandungmoles (bangunan yang terdiri dari susunan batu melingkari pohon yang hidup. Susunan batu sebagai simbol persatuan masyarakat adat, sementara pohon yang hidup sebagai simbol pemimpin yang tegas, bijaksana dan melindungi).
Hama ini kemudian diritualkan pada malam kelima Kaijo, tepatnya pagi sebelum fajar, hama-hama tersebut kemudian ditempatkan pada Podho Nawung, asal-usulnya di sebuah bukit yang bernama Inewesan.
Setelah hama-hama tersebut diantar atau dikembalikan ke tempat asal-usulnya, maka rangkaian ritual adat Kaijo berakhir, sehingga masyarakat adat Mbay meyakini tidak akan ada lagi hama yang menyerang tanaman yang dapat merusak tanaman sehingga berdampak pada gagal panen.
Hal senada juga diceritakan oleh seorang budayawan masyarakat adat Mbay, Abdul Syukur Manetima.
Abdul Syukur menjelaskan, Kaijo adalah upacara tahunan sekali yang biasa dilaksanakan hanya pada musim penghujan atau musim tanam.
Kaijo pada masa leluhur bermakna erat kaitannya dengan hama tanaman. Kaijio hanya masyarakat adat Mbay yang diselenggarakan di kampung adat Mbay yang disebut Nggolombay.
Di sana ada Ngandung sebagai simbol pemersatu masyarakat mbay dan rumah adat yg disebut Rumah Ngandung Moles.
Seremoni adat Kaijo berkaitan erat dengan upacara untuk menolak hama atau penyakit yang merusak tanaman petani.
Kaijo dilaksanakan selama 5 malam berturut-turut dan pada malam ke-5 adalah malam puncak atau malam penutup dan paginya bersama-sama mengantar hama ke tempat yang telah ditentukan.
Jenis hama-hama tanaman yang harus disingkirkan atau dikembalikan ke tempat asal-usulnya saat ritual adat Kaijo seperti tikus, serangga, dan ulat yang merusak tanaman petani.
Dulu hama yang datang seperti ulat, belalang, dan tikus, memang benar-benar sulit dibasmi.
Satu- satunya cara yaitu segera melaksanakan ritual adat Kaijo. Apabila Kaijo sudah dilaksanakan, maka sesudah malam kelima hama-hama tersebut lambat laun hilang begitu saja.
Pada malam kelima yang perlu diperhatikan oleh petani yang hadir, harus dibawa Teru (semacam tabung bambu) yang diisi dengan jenis hama seperti ulat, walang sangit, belalang, dan tikus, dibawa ke tempat seremoni ritual adat Kaijo dan digantung di Ngandung Moles.
Bagi yang tidak hadir langsung pada ritual adat Kaijo, bisa dapat mengirim bambu yang sudah diisi hama untuk di ke tempat asal usulnya. Memang dahulu leluhur masyarakat adat Mbay sangat patuh dengan ketentuan ritual adat Kaijo.
Kaijo juga bisa bermakna ramalan cuaca/ curah hujan tahun berjalan serta sebagai pertanda pada tahun tersebut, petani akan memperoleh produksi pertanian baik.
Dalam rangkaian acara yang dilaksanakan pada pagi hari setelah mengembalikan hama ke tempat asal-usulnya sekaligus penutup Kaijo yang juga bermakna permohonan doa masyarakat adat Mbay dijauhkan dari mara bahaya atau bencana.
(Zz)
FIFA World Cup 2026
Pesta Sepak Bola Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat
48 Negara | 11 Juni - 19 Juli 2026
Redaksi
21 Sep 2026
LUWU, vokalpublika.com— Kebijakan penyaluran BBM bersubsidi di Kabupaten Luwu menuai sorotan tajam. ADVERTISEMENT Sejumlah petani dan nelayan dilaporkan mengeluhkan kejanggalan dalam penerbitan barcode BBM bersubsidi yang dinilai tidak merata dan kerap memicu kelangkaan di tingkat bawah. Mantan Ketua Umum BEM Ilmu Komunikasi yang juga merupakan pemuda asli Kabupaten Luwu, Bahrun, angkat bicara mengenai persoalan tersebut. …
Redaksi
21 Sep 2026
Tanjungpinang, vokalpublika.com– Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polresta Tanjungpinang melaksanakan kegiatan razia gabungan bersama Polisi Militer, Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kota Tanjungpinang, dan Jasa Raharja Kota Tanjungpinang, Kamis (17/9/2026). ADVERTISEMENT Kegiatan tersebut dilaksanakan di Jalan D.I. Panjaitan, Kota Tanjungpinang, dalam rangka meningkatkan kepatuhan masyarakat dalam berlalu lintas sekaligus memberikan edukasi dan imbauan kepada para pengguna jalan. …
Redaksi
20 Sep 2026
Batam, vokalpublika.com— Ketua DPD GRIB JAYA Provinsi Kepulauan Riau, Junaidi Eddy, menyampaikan pernyataan resmi terkait peristiwa pertikaian yang terjadi di kawasan Setokok, Jembatan 2 Barelang, Batam.Ia meminta seluruh pihak yang terlibat dalam peristiwa tersebut diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku secara adil dan tanpa pandang bulu. ADVERTISEMENT “Kami sepenuhnya mendukung sikap dan langkah penanganan hukum …
Redaksi
20 Sep 2026
Aliansi Gunung Ungaran dan Telomoyo Buka Posko Advokasi Geothermal, Kantor Hukum Sugiyono S.E., S.H., M.H. dan Rumah Solusi Turun Gunung – GMOCT: #SaveGunungUngaran ADVERTISEMENT SEMARANG, GMOCT 20 September 2026 – Penolakan rencana pengeboran panas bumi (geothermal) di kawasan Gunung Ungaran dan Gunung Telomoyo terus menguat. Kantor Hukum Sugiyono S.E., S.H., M.H. bersama Rumah Solusi nya …
Alwi Assagaf
20 Sep 2026
BATANG, Vokalpublika.com — Anggota DPR RI Komisi VI dari Fraksi PKS, Rizal Bawazier, memfasilitasi pembangunan fasilitas olahraga berupa jogging track sepanjang 400 meter di Lapangan Cokronegoro, Desa Limpung, Kabupaten Batang. Fasilitas tersebut terealisasi berkat program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL/CSR) BNI sebagai BUMN mitra kerja Komisi VI. ADVERTISEMENT Rizal mengungkapkan bahwa proyek ini merupakan …
Alwi Assagaf
20 Sep 2026
Pekalongan, Vokalpublika.com — Sidang perdana perkara penusukan yang mengakibatkan meninggalnya Muhammad Zuhri alias Mamat Godril dijadwalkan berlangsung di Pengadilan Negeri Pekalongan pada Senin (21/9/2026). Menjelang persidangan, tim kuasa hukum keluarga korban mendorong agar seluruh proses hukum diuji secara cermat, objektif, dan menyeluruh. ADVERTISEMENT Advokat muda Adv. Willy Triatama Bandrio, S.H., CMDF., CPLA., dari LBH Setia …
17 Sep 2025 5.708 views
Humbang Hasundutan, vokalpublika.com – Jadi Pertanyaan di tengah-tengah masyarakat pasalnya tiba-tiba 4 (empat) Kepala Dinas Dan 1 (satu) Asisten di pemerintahan Bupati Humbang Hasundutan Dr Oloan Paniaran Nababan SH, MH. Secara kompak mengundurkan diri. ADVERTISEMENT Dari Pantauan awak media ke 4 (empat) Kepala Dinas dan 1 (satu) Asisten yang mengundurkan diri yaitu, Frans Judika Pasaribu …
07 Oct 2025 4.587 views
Humbang Hasundutan, vokalpublika.com, – Wakil Bupati (Wabup) Humbang Hasundutan (Humbahas) Yunita Rebeka Marbun kaget karena Ajudannya Fricilia Damanik yang selama ini menemaninya saat bertugas, tiba-tiba dimutasi oleh bupati Humbahas Oloan Paniaran Nababan tanpa alasan, pernyataan ini diungkapkan saat Wabup Yunita Rebeka Marbun turut mengantarkan Fricilia Damanik ke tempat kerja baru di Kantor Kelurahan Pasar Doloksanggul, …
05 Aug 2025 3.953 views
Bulukumba, Vokalpublika.com -Aksi protes tidak biasa mengguncang Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Bulukumba pada Selasa (5/8). Sejumlah warga bersama keluarga korban kecelakaan lalu lintas melakukan aksi simbolik dengan menggantungkan celana dalam dan bra di pagar kantor Kejari. Aksi ini merupakan bentuk kekecewaan mendalam terhadap penanganan perkara yang dinilai jauh dari rasa keadilan. ADVERTISEMENT Perkara kecelakaan maut …
05 Aug 2025 3.790 views
Bulukumba,Vokalpublika.com – Ratusan warga yang tergabung dalam aksi unjuk rasa melampiaskan kekecewaan mereka terhadap Kejaksaan Negeri Bulukumba dengan melempari kantor kejaksaan menggunakan telur dan kotoran sapi. Selasa, 5 Agustus 2025. ADVERTISEMENT Aksi ini merupakan bentuk protes atas penanganan perkara kecelakaan lalu lintas yang dinilai tidak adil dan tidak transparan. Perkara kecelakaan lalu lintas tersebut terjadi …
22 May 2025 3.292 views
Tanjungpinang, 22 Mei 2025 – Kasus penyelundupan narkotika kembali mengguncang perairan Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau. Dalam dua pekan terakhir, aparat gabungan berhasil menggagalkan dua aksi penyelundupan sabu-sabu dengan total berat hampir 4 ton dari dua kapal berbeda di wilayah laut Karimun. ADVERTISEMENT Kapal pertama, berbendera Thailand, diamankan TNI AL pada 13 Mei 2025 di Selat …
14 May 2025 3.252 views
KARIMUN – DPC PROJO Kabupaten Karimun menyoroti langkah PT Anva Gemilang Bersama (AGB) yang meminta Pemerintah Kabupaten Karimun menerbitkan surat edaran resmi terkait jadwal pembuangan sampah. Permintaan tersebut dinilai tidak semestinya datang dari pihak ketiga yang hanya berperan sebagai pelaksana teknis. ADVERTISEMENT Sebelumnya, Manajer Operasional PT AGB menyampaikan kepada media bahwa pihaknya mengusulkan agar warga …
28 Jul 2025 2.660 views
Nias Selatan, VokalPublika.com – Dugaan korupsi Dana Desa di Desa Caritas Sogawunasi, Kecamatan Lolomatua, Kabupaten Nias Selatan kembali mencuat. Kepala Desa (Kades) Faona Lala Giawa kini menjadi sorotan setelah warga melaporkan adanya penyimpangan pengelolaan dana dari tahun 2020 hingga 2024. ADVERTISEMENT Salah satu warga yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa bantuan seperti Bantuan Langsung Tunai …