Home » Berita » Wawancara Khusus Direktur The Sawerigading Institute Soroti Risiko Pembangunan Smelter di Luwu Timur

Wawancara Khusus Direktur The Sawerigading Institute Soroti Risiko Pembangunan Smelter di Luwu Timur

Redaksi 10 Nov 2025 187

Luwu timur, vokalpublika.com– Optimisme terhadap proyek hilirisasi nikel di Kabupaten Luwu Timur disambut dengan peringatan keras terkait potensi risiko ekologis dan sosial jika perencanaan awal tidak matang.

Direktur The Sawerigading Institute, Asri Tadda, menegaskan bahwa pembangunan kawasan industri smelter nikel harus dimulai dengan cara yang benar, bukan sekadar formalitas atau demi mengejar target investasi.

“Hilirisasi adalah langkah penting, tetapi jika dilakukan secara terburu-buru tanpa kesiapan tata ruang, infrastruktur, dan perlindungan lingkungan, maka yang tercipta hanyalah ilusi kemajuan,” tegas Asri Tadda.

Dalam rilis opininya, Asri menyoroti bahwa banyak kawasan industri nikel di Indonesia berujung pada masalah serius akibat lemahnya tata kelola regulatif dan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Ia menilai pemerintah daerah harus belajar dari berbagai kasus serupa di Sulawesi Tenggara dan Maluku Utara, di mana kerusakan lingkungan dan konflik sosial menjadi konsekuensi pembangunan yang tak terkendali.

Baca juga:  Pentingnya "Persetujuan Bangunan Gedung"(PBG) dan "Sertifikat Laik Fungsi"(SLF) Dalam Proses Pembangunan/Kontruksi Bangunan Gedung.

Asri menekankan dua aspek krusial yang kerap diabaikan: kepatuhan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan proses AMDAL yang sah, terbuka, dan komprehensif.

“Pembangunan kawasan industri di luar RTRW, apalagi di atas lahan produktif atau daerah resapan air, mungkin legal secara politik, tapi ilegal secara administratif dan ekologis,” ujarnya.

Smelter nikel diketahui memiliki potensi besar menyebabkan polusi udara, pencemaran air tanah, dan kontaminasi logam berat. Menurut Asri, tanpa kajian lingkungan yang mendalam, wilayah Luwu Timur—terutama kawasan Lampia di sekitar Teluk Bone dan aliran Sungai Malili—berisiko menghadapi bencana ekologis serius.

Baca juga:  GMBI Temukan Dugaan Proyek Asal Jadi hingga Alamat Kantor Pemenang Tender Fiktif di Pesibar

Selain risiko lingkungan, konflik sosial juga menjadi ancaman nyata. Banyak proyek serupa di daerah lain memicu penolakan warga, sengketa lahan, hingga aksi blokade, karena masyarakat tidak dilibatkan dalam tahap perencanaan.

“Konsultasi publik dalam proses AMDAL bukan formalitas. Itu adalah kewajiban hukum sekaligus wujud keadilan lingkungan,” tegasnya.

Ia menambahkan, kawasan industri yang tidak memiliki legitimasi sosial akan sulit bertahan dalam jangka panjang, meski didukung oleh investor besar sekalipun.

Luwu Timur sebenarnya memiliki modal dasar yang kuat—sumber daya mineral melimpah, pelabuhan laut dalam, serta tenaga kerja potensial. Namun Asri mengingatkan, justru karena potensi besar itulah, setiap langkah pembangunan harus dilakukan secara benar dan transparan.

“Kajian AMDAL harus terbuka, izin lokasi wajib sesuai RTRW, dan pengawasan publik mesti diperkuat,” tandasnya.

Asri Tadda menutup dengan pesan reflektif: pembangunan smelter nikel bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi, tetapi juga masa depan lingkungan dan keberlanjutan sosial.

“Luwu Timur bisa menjadi model hilirisasi yang benar—bukan sekadar cepat membangun, tapi tepat arah dan berkelanjutan. Jangan sampai menjadi contoh buruk di mana masyarakat lokal menanggung beban sosial dan kesehatan dari kemajuan yang semu.”

Kurs Rupiah Hari Ini
Kurs Rupiah Hari Ini
Update nilai tukar beberapa mata uang
USD
USD
Beli
16.365,00
Jual
16.425,00
Sumber: BCA e-Rate (data dapat berubah)
Slider Foto Otomatis
Tags :
Related post
​OPINI: Menyoal Moralitas “Penumpang Gelap” di Balik Karya Jurnalistik

Alwi Assagaf

28 Apr 2026

Oleh: Aliansi Wartawan Pantura Bersatu (AWPB) ​Sebuah karya jurnalistik lahir dari proses yang panjang dan berisiko. Mulai dari menampung laporan masyarakat, melakukan investigasi lapangan, hingga verifikasi data demi mengungkap kebenaran dan menyelamatkan uang negara. Namun, ironi besar kini tengah melanda profesi kita. ​Fakta di lapangan menunjukkan fenomena miris: munculnya oknum-oknum yang mengaku sebagai rekan seprofesi, …

Carut Marut Infrastruktur WiFi di Pemalang: AWPB Soroti Lemahnya Pengawasan dan Potensi Kebocoran PAD

Alwi Assagaf

27 Apr 2026

PEMALANG – Aliansi Wartawan Pantura Bersatu (AWPB) mendesak Pemerintah Kabupaten Pemalang untuk bersikap transparan terkait pemanfaatan Ruang Milik Jalan (Rumija) untuk tiang kabel fiber optik (WiFi). AWPB mengindikasikan adanya praktik bisnis jaringan internet “gelap” yang mengabaikan prosedur perizinan dan merugikan Pendapatan Asli Daerah (PAD). ​Secara regulasi, pemasangan sarana komersial di lahan pemerintah wajib memiliki izin …

​Gotong Royong Kodim Pemalang dan Masyarakat Bangun Jembatan Penghubung Belik-Randudongkal

Alwi Assagaf

27 Apr 2026

PEMALANG, Vokalpublika.com – Personel Kodim 0711/Pemalang melalui Koramil 11/Belik bersama warga Desa Sikasur melaksanakan gotong royong pembangunan Jembatan Garuda di atas Sungai Dauan, Senin (27/4/2026). Infrastruktur ini dibangun untuk menghubungkan Desa Sikasur (Kecamatan Belik) dengan Desa Karangmoncol (Kecamatan Randudongkal). Jembatan dengan dimensi panjang 50 meter dan lebar 1,2 meter tersebut saat ini memasuki tahap pengerjaan …

Ketum GHLHI Soroti Menteri Lingkungan Hidup Baru, Desak Penegakan Hukum Tegas di Tengah Krisis Lingkungan Nasional

Redaksi

27 Apr 2026

Jakarta, vokalpublika.com – Ketua Umum DPP Gugus Hukum Lingkungan Hidup Indonesia (GHLHI), Bakti Lubis, menyoroti penunjukan Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup, dengan menekankan pentingnya langkah tegas dalam penegakan hukum terhadap pelanggaran lingkungan. Dalam keterangannya, Bakti Lubis menyampaikan ucapan selamat sekaligus harapan besar agar kepemimpinan baru di sektor lingkungan hidup mampu menghadirkan perubahan nyata di …

Mengungkap Tabir Proyek Rp25 Miliar di Pesisir Barat: Dugaan Penyimpangan hingga Minim Pengawasan, Mutu Pendidikan Terancam

Redaksi

27 Apr 2026

Pesisir Barat, Vokalpublik.com – Proyek Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) untuk renovasi dan rehabilitasi madrasah di Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, dengan nilai mencapai Rp25,48 miliar, kini menjadi sorotan serius. Program yang digulirkan pemerintah pusat melalui kolaborasi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dan Kementerian Agama Republik Indonesia untuk Tahun Anggaran 2025–2026 itu diduga menyisakan sejumlah …

Iuran Sampah Dipertanyakan Respons Desa Kaduagung Belum Menyeluruh

Redaksi

27 Apr 2026

Kuningan, vokalpublika.com— Polemik pengelolaan sampah di Desa Kaduagung, Kecamatan Karangkancana, Kabupaten Kuningan, masih menyisakan tanda tanya. Selain dugaan praktik pembakaran sampah secara terbuka, transparansi penggunaan iuran kebersihan sebesar Rp10 ribu per rumah tangga juga menjadi sorotan. Permasalahan ini mencuat setelah awak media menerima keluhan warga terkait masih berlangsungnya pembakaran sampah di lingkungan desa, meski masyarakat …

Sumber Informasi Vokalpublika.com
x
x