Home » Berita » Kaijo: Ritual masyarakat Adat Mbay untuk Menghentikan Serangan Hama dan Menjaga Keseimbangan Ekosistem

Kaijo: Ritual masyarakat Adat Mbay untuk Menghentikan Serangan Hama dan Menjaga Keseimbangan Ekosistem

Redaksi 03 Dec 2025 63

Nagekeo, vokalpublika.com – Kaijo merupakan sebuah ritual adat dalam komunitas masyarakat adat Mbay yang berisi nyanyian berupa pantun dan tarian selama 5 malam secara berturut-turut.

Ritual Kaijo ini diyakini masyarakat adat Mbay memiliki kekuatan magis religius hingga terbukti secara turun-temurun mampu menghentikan dari setiap serangan hama.

Tujuan dari Kaijo itu sendiri untuk menyelamatkan hasil panen, ketahanan pangan di tingkat lokal, dan menjaga keseimbangan ekosistem.

Muhayam Amir yang merupakan salah satu tokoh dari masyarakat adat Mbay menceritakan bahwa ritual ada Kaijo lahir sebagai akibat dari datangnya serangan hama terhadap tanaman pertanian.

Di awal peristiwa ini, masyarakat adat Mbay merespon dengan cara-cara yang sangat emosional seperti mencaci, menghujat, bahkan sampai pada membakar dan memusnahkan tempat-tempat tertentu yang dianggap sebagai tempat berkembang biaknya hama-hama tersebut.

Ekspresi emosional ini kemudian dilakoni selama ritual Kaijo, namun cara ini lambat laun ternyata tidak menyelesaikan persoalan hama, justru serangan hama semakin masif dan sampai berdampak pada gagal panen dan terjadinya kelaparan di mana-mana.

Dalam situasi sulit dan terpuruk, para leluhur hanya bisa pasrah secara total pada sang pencipta. Suatu ketika, dalam renungan panjang mereka, pada akhirnya mereka mendapatkan sebuah petunjuk (dalam bahasa Mbay: Toingnot) bahwa tidak ada cara lain kecuali membuat ritual untuk mengembalikan keseimbangan lingkungan.

Dengan bekal kematangan emosional dan kesadaran berpikir yang tinggi, mereka mampu menemukan sebuah konsep ritual yang dikenal dengan nama Kaijo.

Baca juga:  HUT ke-80 RI, Parosil Mabsus: Momen Bangun Spirit dan Nasionalisme

Dalam bahasa Mbay, Kaijo terdiri dari dua suku kata yaitu “Kaik” dan “Jo’o”.
Kaik artinya membiarkan, sementara Jo’o artinya menghentikan. Kaik dan Jo’o kemudian dirangkaikan menjadi satu kata yaitu Kaijo.

Leluhur masyarakat adat Mbay pada zamannya memandang hama-hama tersebut adalah makhluk yang diciptakan Tuhan dengan tujuan tertentu, sehingga hama-hama tersebut tidak boleh dimusnahkan dengan dalil apapun.

Sehingga dalam ritual Kaijo, hama-hama tersebut ditangkap dan dibiarkan hidup sampai pada saatnya tiba baru disingkirkan secara hidup-hidup ke tempat asa-usulnya yang mana tempat tersebut dipercaya sebagai asal muasal hama.

Dalam tradisi masyarakat adat Mbay, Kaijo salah satu ritual tahunan yang dilakukan dengan tujuan untuk menghentikan setiap pergerakan hama yang menyerang tanaman pertanian.

Upaya ini dilakukan dengan cara berdasarkan kearifan lokal yaitu menyingkirkan hama-hama tersebut secara alami ke tempat asalnya melalui sebuah ritual yang di sebut Kaijo

Metode penyingkiran hama ini dilakukan dengan menangkap berbagai jenis hama dalam keadaan hidup, lalu dimasukkan ke dalam sebuah wadah yang terbuat dari bambu atau dalam bahasa Mbay biasa disebut Teru.

Dalam ritual ini, semua petani wajib membawa hama-hama yang sudah dimasukkan dalam Teru-teru itu dan digantung di sekeliling Ngandungmoles (bangunan yang terdiri dari susunan batu melingkari pohon yang hidup. Susunan batu sebagai simbol persatuan masyarakat adat, sementara pohon yang hidup sebagai simbol pemimpin yang tegas, bijaksana dan melindungi).

Baca juga:  Pemkab Pemalang Genjot Perbaikan Infrastruktur: Jalan Kabupaten di Desa Sidokare dan Desa Pesucen Masih Rusak Berat

Hama ini kemudian diritualkan pada malam kelima Kaijo, tepatnya pagi sebelum fajar, hama-hama tersebut kemudian ditempatkan pada Podho Nawung, asal-usulnya di sebuah bukit yang bernama Inewesan.

Setelah hama-hama tersebut diantar atau dikembalikan ke tempat asal-usulnya, maka rangkaian ritual adat Kaijo berakhir, sehingga masyarakat adat Mbay meyakini tidak akan ada lagi hama yang menyerang tanaman yang dapat merusak tanaman sehingga berdampak pada gagal panen.

Hal senada juga diceritakan oleh seorang budayawan masyarakat adat Mbay, Abdul Syukur Manetima.

Abdul Syukur menjelaskan, Kaijo adalah upacara tahunan sekali yang biasa dilaksanakan hanya pada musim penghujan atau musim tanam.

Kaijo pada masa leluhur bermakna erat kaitannya dengan hama tanaman. Kaijio hanya masyarakat adat Mbay yang diselenggarakan di kampung adat Mbay yang disebut Nggolombay.

Di sana ada Ngandung sebagai simbol pemersatu masyarakat mbay dan rumah adat yg disebut Rumah Ngandung Moles.

Seremoni adat Kaijo berkaitan erat dengan upacara untuk menolak hama atau penyakit yang merusak tanaman petani.

Kaijo dilaksanakan selama 5 malam berturut-turut dan pada malam ke-5 adalah malam puncak atau malam penutup dan paginya bersama-sama mengantar hama ke tempat yang telah ditentukan.

Jenis hama-hama tanaman yang harus disingkirkan atau dikembalikan ke tempat asal-usulnya saat ritual adat Kaijo seperti tikus, serangga, dan ulat yang merusak tanaman petani.

Baca juga:  Aktivis LIRA Kritik Polres Maros: Mafia BBM Ilegal Harus Ditahan, Bukan Wajib Lapor

Dulu hama yang datang seperti ulat, belalang, dan tikus, memang benar-benar sulit dibasmi.

Satu- satunya cara yaitu segera melaksanakan ritual adat Kaijo. Apabila Kaijo sudah dilaksanakan, maka sesudah malam kelima hama-hama tersebut lambat laun hilang begitu saja.

Pada malam kelima yang perlu diperhatikan oleh petani yang hadir, harus dibawa Teru (semacam tabung bambu) yang diisi dengan jenis hama seperti ulat, walang sangit, belalang, dan tikus, dibawa ke tempat seremoni ritual adat Kaijo dan digantung di Ngandung Moles.

Bagi yang tidak hadir langsung pada ritual adat Kaijo, bisa dapat mengirim bambu yang sudah diisi hama untuk di ke tempat asal usulnya. Memang dahulu leluhur masyarakat adat Mbay sangat patuh dengan ketentuan ritual adat Kaijo.

Kaijo juga bisa bermakna ramalan cuaca/ curah hujan tahun berjalan serta sebagai pertanda pada tahun tersebut, petani akan memperoleh produksi pertanian baik.

Dalam rangkaian acara yang dilaksanakan pada pagi hari setelah mengembalikan hama ke tempat asal-usulnya sekaligus penutup Kaijo yang juga bermakna permohonan doa masyarakat adat Mbay dijauhkan dari mara bahaya atau bencana.

(Zz)

Kurs Rupiah Hari Ini
Kurs Rupiah Hari Ini
Update nilai tukar beberapa mata uang
USD
USD
Beli
16.365,00
Jual
16.425,00
Sumber: BCA e-Rate (data dapat berubah)
Slider Foto Otomatis
Tags :
Related post
Sipropam Polres Probolinggo Kota Tingkatan Ketertiban dan Disiplin Lakukan Pemeriksaan dan Cek Senpi Dinas milik Anggota.

Redaksi

10 Mar 2026

Probolinggo,-vokalpublika.com,-Seksi Profesi dan Pengamanan (Sipropam) Polres Probolinggo Kota melaksanakan kegiatan penegakan ketertiban dan disiplin (Gaktibplin) dengan melakukan pemeriksaan serta pengecekan senjata api (senpi) dinas milik anggota, Senin (9/3/2026). Kegiatan yang digelar di Lapangan Apel Polres Probolinggo Kota sejak pukul 08.00 WIB tersebut dipimpin Wakapolres Probolinggo Kota Kompol Didid Wahyu Agustyawan bersama jajaran Sipropam Polres Probolinggo …

Aksi Ramadan: Ratusan Paket Takjil Gratis Dibagikan Dandim Pemalang Bersama Komunitas Moge dan Vespa Laris Diserbu Warga

Alwi Assagaf

10 Mar 2026

Pemalang, Vokalpublika.com – Dalam rangka meningkatkan kepedulian sosial serta mempererat kebersamaan di bulan suci Ramadhan, Kodim 0711/Pemalang bersama komunitas Moge dan Vespa Kabupaten Pemalang menggelar kegiatan bagi-bagi takjil kepada masyarakat dan pengguna jalan. Kegiatan tersebut dilaksanakan di depan Gedung Juang, Jalan Pemuda, Kelurahan Mulyoharjo, Kecamatan Pemalang, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, Senin sore (9/3/2026). Kegiatan sosial …

Projo Salurkan Kurma, Takjil dan Sembako untuk Jamaah Masjid di Bulan Ramadhan

admin

09 Mar 2026

Karimun, Vokalpublika.com – Semangat berbagi di bulan suci Ramadhan kembali ditunjukkan oleh relawan Projo. Pada Senin, 9 Maret 2026, jajaran DPD Projo Kepulauan Riau bersama DPC Projo Karimun melaksanakan kegiatan sosial berupa pembagian kurma, takjil, serta paket sembako kepada masyarakat dan jamaah masjid di sejumlah titik di Kabupaten Karimun. Salah satu lokasi utama kegiatan tersebut …

Tanpa Migas Batam Tetap Tancap Gas: Ekonomi Tumbuh 6,76%, Tertinggi di Kepri dan Lampaui Nasional

Redaksi

09 Mar 2026

Batam, vokalpublika.com— Perekonomian Kota Batam menunjukkan kinerja yang semakin solid sepanjang tahun 2025. Tanpa bergantung pada sektor minyak dan gas, Batam berhasil mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 6,76 persen (year-on-year), menjadikannya yang tertinggi di Provinsi Kepulauan Riau sekaligus melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi provinsi dan nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau …

Merasa Disudutkan, Gafur dan Mazlan Beri Penjelasan Terkait Pemberitaan Dana Hantu

Redaksi

09 Mar 2026

Meranti,vokalpublika.com – terkait pemberitaan disalah satu Portal Media Online yang terkesan menyudutkan 2 (Dua) Pejabat di Kabupaten Kepulauan Meranti dengan judul “MISTERI “DANA HANTU” 854 JUTA SEKWAN MERANTI: MAZLAN & GAPUR SALING TUDUH, GOHUKRIM TELUSURI DOKUMEN SPPD DAN BELANJA OPERASIONAL TA 2024” ini langsung direspon dengan cepat oleh yang bersangkutan. Pemberitaan dinilai tidak professional dan …

Dharma Wanita Kecamatan Pemalang Bagikan 200 Takjil di Depan Kantor Kecamatan, Wujud Kepedulian Ramadan

Alwi Assagaf

08 Mar 2026

Pemalang, Vokalpublika.com – Lalu lintas di depan Kantor Kecamatan Pemalang pada Minggu sore tampak sedikit melambat. Beberapa pengendara yang melintas dihentikan sejenak oleh ibu-ibu Dharma Wanita yang berdiri di tepi jalan.Bukan razia, melainkan aksi berbagi takjil untuk mereka yang masih berada di perjalanan menjelang waktu berbuka puasa. Sekitar 200 paket takjil dibagikan kepada pengguna jalan …

Sumber Informasi Vokalpublika.com
x
x