Home » Berita » Dari Iklan ke Konten Viral Objektifikasi Perempuan di Media Digital

Dari Iklan ke Konten Viral Objektifikasi Perempuan di Media Digital

Redaksi 03 Oct 2025 593

Oleh: Ermelinda Noh Wea

Dulu, tubuh perempuan hadir dalam iklan sabun, parfum, hingga mobil. Tidak untuk didengarkan, tetapi untuk dipandang. Ia menjadi pemikat mata, penggoda perhatian, dan akhirnya dijadikan alat jual beli. Kini, wajah-wajah baru dari praktik itu hadir di TikTok, Instagram Reels, YouTube dan segala bentuk konten digital lebih cepat, lebih masif, dan lebih halus.

Perempuan tetap jadi objek. Tapi kini, objektifikasi itu disulap menjadi hiburan, tren viral, atau bahkan pilihan personal. Perubahannya hanya pada medium, bukan pada nilai.

Perubahan media dari televisi ke digital tidak serta-merta mengubah cara perempuan direpresentasikan. Justru, dengan munculnya algoritma yang bekerja berdasarkan perhatian, eksploitasi tubuh perempuan mengalami percepatan dan pendalaman. Konten-konten yang menonjolkan sensualitas atau memperlihatkan tubuh perempuan seringkali mendapatkan engagement tinggi views, likes, shares, dan komentar yang membludak.

Algoritma menyukai apa yang membuat orang lama menatap layar. Dan tubuh perempuan, sayangnya, masih menjadi aset visual paling menguntungkan.

Banyak konten viral yang memperlihatkan perempuan menari dengan pakaian minim, atau video prank dengan unsur seksual terselubung, yang nyaris tidak bisa dibedakan dari bentuk pelecehan. Ironisnya, video seperti ini tidak hanya dibuat oleh laki-laki dan perempuanpun, seringkali tanpa sadar, ikut dalam siklus eksploitasi demi eksistensi digital.

Apakah ini bentuk kebebasan berekspresi? Atau justru bentuk baru dari tekanan sosial yang terselubung?

Objektifikasi perempuan bukan hanya tentang konten sensual. Ia hadir dalam narasi yang terus-menerus mengecilkan perempuan menjadi tampilan luar, kulit, tubuh, bibir, ukuran pinggang, bentuk payudara, gaya berpakaian. Perempuan yang tidak memenuhi standar ini dikomentari. Perempuan yang mencoba bicara soal hak tubuhnya, dibungkam atau diolok.

Baca juga:  32 Tim SMP Se-Probolinggo Raya Siap Berlaga di Piala Bola Basket BeeJay Cup 2025, Ini Kata Walikota dr Aminuddin.

Di TikTok, banyak konten yang mengaku review fashion tapi sebenarnya hanya mengkritik bentuk tubuh perempuan lain. Di Instagram, para selebritas muda harus bersaing dalam menampilkan bentuk tubuh ideal demi tetap relevan di mata followers. Di YouTube, perempuan berpakaian seksi sering digunakan untuk meningkatkan klik meski isi videonya tidak relevan sama sekali.

Komentar-komentar seperti makin cantik sekarang, Body goals banget”, dll Semuanya menunjukkan bahwa tubuh perempuan adalah ruang publik yang bisa dikomentari bebas. Objektifikasi menjadi budaya. Dan budaya yang dinormalisasi adalah kekerasan yang dilegalkan.

Ada argumen yang sering dipakai untuk membela fenomena ini “Kan dia sendiri yang mengunggah, atau Tubuhnya, haknya”. Di sinilah letak jebakan yang lebih rumit. Ketika perempuan merasa harus terus menyesuaikan diri dengan algoritma demi relevansi sosial, maka apa yang tampak sebagai pilihan bisa jadi adalah paksaan tidak kasat mata.

Tekanan untuk selalu tampil menarik, seksi, dan sesuai standar kecantikan tidak muncul dari ruang hampa. Ia adalah hasil konstruksi sosial yang diproduksi dan diperkuat oleh media digital, iklan, dan budaya populer selama puluhan tahun.

Kita harus mulai mempertanyakan apakah benar perempuan bebas dalam ruang digital, atau justru makin dikungkung oleh standar yang semakin tidak masuk akal?

Baca juga:  Hore! Pemkot Bekasi Tambah Ruang Terbuka Hijau di Aren Jaya, Mas Tri Ajak Warga Jaga Taman Bersama

Objektifikasi perempuan di media digital tidak berhenti di layar. Ia menjalar ke dunia nyata ke dalam komentar yang melecehkan, pesan-pesan pribadi bernada seksual, hingga kekerasan berbasis gender secara langsung.

Studi menunjukkan bahwa paparan berlebih terhadap konten-konten yang menjadikan perempuan sebagai objek bisa menurunkan kepercayaan diri, meningkatkan gangguan citra tubuh, dan mendorong perilaku ekstrem seperti diet berlebihan, dismorfia tubuh, bahkan depresi.

Di sisi lain, lelaki yang tumbuh dengan konten seperti ini rentan menganggap perempuan sebagai objek seksual semata, bukan manusia utuh. Ini adalah benih dari kekerasan berbasis gender yang terus tumbuh di masyarakat.

Masalah ini tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Diperlukan kerja bersama dari berbagai lini

  1. Platform Digital Harus Bertanggung Jawab

Instagram, TikTok, YouTube, dan platform lainnya perlu meninjau ulang algoritma yang memberi keuntungan pada konten seksis dan objektifikatif. Moderasi konten harus lebih ketat dan transparan. Edukasi kreator konten tentang etika digital harus jadi prioritas.

  1. Pendidikan Literasi Media Sejak Dini Anak-anak dan remaja perlu dikenalkan pada literasi media, bagaimana membedakan konten sehat dan tidak, bagaimana memahami manipulasi visual, dan bagaimana mengenali objektifikasi. Pendidikan gender yang adil harus masuk ke kurikulum formal dan nonformal.
  2. Perempuan Perlu Didukung Jadi Subjek Bukan Obyek
Baca juga:  Aksi Sejuta Buruh Dilakukan di Jalan Merdeka Selatan, Buruh Siap Berperang Ke Palestina

Kita perlu memberi panggung bagi perempuan untuk hadir sebagai pembuat narasi, bukan sekedar penghias visual. Dorong perempuan menjadi jurnalis, kreator konten yang berkualitas, peneliti, pembicara dan pemimpin. Representasi yang sehat menciptakan budaya yang sehat.

  1. Publik Harus Lebih Kritis

Kita sebagai pengguna media sosial punya tanggung jawab besar. Jangan dukung konten yang menjual tubuh perempuan. Jangan ikut menyebarkan. Laporkan. Dan lebih penting lagi dukung konten yang memberdayakan, mengedukasi, dan menghormati martabat manusia.

Objektifikasi bukan hanya soal pakaian yang terbuka atau konten yang sensual. Ia adalah pola pikir yang mereduksi manusia menjadi komoditas. Ia adalah budaya yang menyamakan nilai perempuan dengan jumlah likes dan komentar.

Sudah saatnya kita menolak budaya ini. Tidak dengan kemarahan kosong, tapi dengan kesadaran kritis, kerja nyata, dan solidaritas yang kuat. Dunia digital bisa menjadi ruang yang lebih sehat dan setara jika kita mau bekerja bersama untuk mengubahnya.

Perempuan bukan barang dagangan. Mereka adalah pemilik narasi. Dan sekarang, saatnya kita mendengarkan mereka bukan hanya menatap tubuh mereka.

Jika kita ingin masa depan digital yang beradab, kita harus mulai dari sekarang: membongkar cara kita melihat, berbicara, dan memperlakukan perempuan di dunia maya.

Kurs Rupiah Hari Ini
Kurs Rupiah Hari Ini
Update nilai tukar beberapa mata uang
USD
USD
Beli
16.365,00
Jual
16.425,00
Sumber: BCA e-Rate (data dapat berubah)
Slider Foto Otomatis
Related post
Kuasa Hukum Jordan Minta Polres Karimun Segera Tetapkan Tersangka EP dan F Alias Gugun

admin

26 Feb 2026

Karimun, vokalpublika.com – Kuasa hukum korban dugaan tindak pidana penipuan dan/atau penggelapan atas nama Jordan meminta Polres Karimun segera menetapkan tersangka terhadap EP dan F alias Gugun. Permintaan tersebut berkaitan dengan laporan polisi bernomor LP/B/56/XI/2025/SPKT/PolresKarimun/PoldaKepulauanRiau tertanggal 1 November 2025 yang saat ini tengah ditangani oleh penyidik. Kuasa hukum pelapor, Advokat Ronald Reagen Baringbing, S.H dan …

Malam Anugerah ASN Achievements Award, Disdikbud Kota Probolinggo Raih Juara I Tingkat Jatim.

Redaksi

26 Feb 2026

Probolinggo,-Vokalpublika.com,-Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Probolinggo menorehkan prestasi membanggakan di tingkat Provinsi Jawa Timur. Instansi tersebut meraih Juara I kategori Performance Appraisal Terbaik dalam dalam ajang ASN Achievement Awards Tahun 2025, yang digelar di Surabaya pada hari Selasa 24 februari 2026 malam.Penghargaan itu diberikan langsung oleh Wakil Gubernur Jawa Timur, dan tertuang dalam Piagam …

Ramadan sebagai Momentum Konsolidasi: DPW GHLHI Kepri Gelar Buka Puasa Bersama di Batam

Redaksi

25 Feb 2026

Batam, vokalpublika.com– Dewan Pimpinan Wilayah Gugus Hukum Lingkungan Hidup Indonesia (DPW GHLHI) Kepulauan Riau menggelar kegiatan Buka Puasa Bersama pada Rabu (25/2/2026) pukul 17.00 WIB hingga selesai, bertempat di Swiss-Belhotel Baloi, Batam. Kegiatan yang mengusung tema silaturahmi dan penguatan sinergi penegakan hukum lingkungan ini dihadiri jajaran pengurus DPW, komunitas lingkungan hidup di Batam, serta Ketua …

Bendahara GHLHI Provinsi Kepri Berbagi Kurma di Beberapa Masjid Nongsa

Redaksi

25 Feb 2026

Batam, vokalpublika.com – GHLHI Provinsi Kepulauan Riau kembali menebar kepedulian di bulan suci Ramadan melalui kegiatan berbagi kurma yang dilaksanakan di beberapa masjid di Nongsa. Kegiatan ini diwakili oleh Bendahara GHLHI Provinsi Kepri, Eko Istiyanto, yang hadir langsung di tengah jamaah. Pembagian kurma dilakukan menjelang waktu berbuka puasa, menyasar jamaah masjid serta masyarakat sekitar. Suasana …

Sinergi TNI dan Dinkes Brebes Perkuat Kesehatan Gigi Siswa Melalui Program TAF di Desa Cikuya

Alwi Assagaf

25 Feb 2026

Brebes, Vokalpublika.com – Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-127 Kodim 0713/Brebes memperluas cakupan kegiatannya pada sektor kesehatan masyarakat. Selain fokus pada infrastruktur, Satgas TMMD bersinergi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes menggelar pemberian Topikal Aplikasi Flour (TAF) bagi siswa SD Negeri Cikuya 01, Rabu 25 Februari 2026. ​Layanan kesehatan preventif ini dilakukan oleh Terapis …

Wakil Bupati Pemalang Bereaksi Usai Unggahan Menu SD 02 Jrakah Tuai Kritik Pedas di Media Sosial

Alwi Assagaf

24 Feb 2026

PEMALANG, Vokalpublika.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi angin segar bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia, kini justru menuai sorotan tajam. Alih-alih mendapatkan asupan nutrisi yang ideal, kualitas hidangan yang didistribusikan ke sejumlah sekolah di Kabupaten Pemalang dinilai jauh dari ekspektasi dan terkesan dikelola secara asal-asalan. ​Kegaduhan ini bermula dari unggahan akun …

Sumber Informasi Vokalpublika.com
x
x