Home » Berita » Dari Iklan ke Konten Viral Objektifikasi Perempuan di Media Digital

Dari Iklan ke Konten Viral Objektifikasi Perempuan di Media Digital

Redaksi 03 Oct 2025 639

Oleh: Ermelinda Noh Wea

Dulu, tubuh perempuan hadir dalam iklan sabun, parfum, hingga mobil. Tidak untuk didengarkan, tetapi untuk dipandang. Ia menjadi pemikat mata, penggoda perhatian, dan akhirnya dijadikan alat jual beli. Kini, wajah-wajah baru dari praktik itu hadir di TikTok, Instagram Reels, YouTube dan segala bentuk konten digital lebih cepat, lebih masif, dan lebih halus.

Perempuan tetap jadi objek. Tapi kini, objektifikasi itu disulap menjadi hiburan, tren viral, atau bahkan pilihan personal. Perubahannya hanya pada medium, bukan pada nilai.

Perubahan media dari televisi ke digital tidak serta-merta mengubah cara perempuan direpresentasikan. Justru, dengan munculnya algoritma yang bekerja berdasarkan perhatian, eksploitasi tubuh perempuan mengalami percepatan dan pendalaman. Konten-konten yang menonjolkan sensualitas atau memperlihatkan tubuh perempuan seringkali mendapatkan engagement tinggi views, likes, shares, dan komentar yang membludak.

Algoritma menyukai apa yang membuat orang lama menatap layar. Dan tubuh perempuan, sayangnya, masih menjadi aset visual paling menguntungkan.

Banyak konten viral yang memperlihatkan perempuan menari dengan pakaian minim, atau video prank dengan unsur seksual terselubung, yang nyaris tidak bisa dibedakan dari bentuk pelecehan. Ironisnya, video seperti ini tidak hanya dibuat oleh laki-laki dan perempuanpun, seringkali tanpa sadar, ikut dalam siklus eksploitasi demi eksistensi digital.

Apakah ini bentuk kebebasan berekspresi? Atau justru bentuk baru dari tekanan sosial yang terselubung?

Objektifikasi perempuan bukan hanya tentang konten sensual. Ia hadir dalam narasi yang terus-menerus mengecilkan perempuan menjadi tampilan luar, kulit, tubuh, bibir, ukuran pinggang, bentuk payudara, gaya berpakaian. Perempuan yang tidak memenuhi standar ini dikomentari. Perempuan yang mencoba bicara soal hak tubuhnya, dibungkam atau diolok.

Baca juga:  Satlantas Polres Jombang Bentuk “Tim Burog” Bantu Pemudik di Operasi Ketupat 2026

Di TikTok, banyak konten yang mengaku review fashion tapi sebenarnya hanya mengkritik bentuk tubuh perempuan lain. Di Instagram, para selebritas muda harus bersaing dalam menampilkan bentuk tubuh ideal demi tetap relevan di mata followers. Di YouTube, perempuan berpakaian seksi sering digunakan untuk meningkatkan klik meski isi videonya tidak relevan sama sekali.

Komentar-komentar seperti makin cantik sekarang, Body goals banget”, dll Semuanya menunjukkan bahwa tubuh perempuan adalah ruang publik yang bisa dikomentari bebas. Objektifikasi menjadi budaya. Dan budaya yang dinormalisasi adalah kekerasan yang dilegalkan.

Ada argumen yang sering dipakai untuk membela fenomena ini “Kan dia sendiri yang mengunggah, atau Tubuhnya, haknya”. Di sinilah letak jebakan yang lebih rumit. Ketika perempuan merasa harus terus menyesuaikan diri dengan algoritma demi relevansi sosial, maka apa yang tampak sebagai pilihan bisa jadi adalah paksaan tidak kasat mata.

Tekanan untuk selalu tampil menarik, seksi, dan sesuai standar kecantikan tidak muncul dari ruang hampa. Ia adalah hasil konstruksi sosial yang diproduksi dan diperkuat oleh media digital, iklan, dan budaya populer selama puluhan tahun.

Kita harus mulai mempertanyakan apakah benar perempuan bebas dalam ruang digital, atau justru makin dikungkung oleh standar yang semakin tidak masuk akal?

Baca juga:  Lapas Lamongan Bagikan Alat Mandi Warga Binaan

Objektifikasi perempuan di media digital tidak berhenti di layar. Ia menjalar ke dunia nyata ke dalam komentar yang melecehkan, pesan-pesan pribadi bernada seksual, hingga kekerasan berbasis gender secara langsung.

Studi menunjukkan bahwa paparan berlebih terhadap konten-konten yang menjadikan perempuan sebagai objek bisa menurunkan kepercayaan diri, meningkatkan gangguan citra tubuh, dan mendorong perilaku ekstrem seperti diet berlebihan, dismorfia tubuh, bahkan depresi.

Di sisi lain, lelaki yang tumbuh dengan konten seperti ini rentan menganggap perempuan sebagai objek seksual semata, bukan manusia utuh. Ini adalah benih dari kekerasan berbasis gender yang terus tumbuh di masyarakat.

Masalah ini tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Diperlukan kerja bersama dari berbagai lini

  1. Platform Digital Harus Bertanggung Jawab

Instagram, TikTok, YouTube, dan platform lainnya perlu meninjau ulang algoritma yang memberi keuntungan pada konten seksis dan objektifikatif. Moderasi konten harus lebih ketat dan transparan. Edukasi kreator konten tentang etika digital harus jadi prioritas.

  1. Pendidikan Literasi Media Sejak Dini Anak-anak dan remaja perlu dikenalkan pada literasi media, bagaimana membedakan konten sehat dan tidak, bagaimana memahami manipulasi visual, dan bagaimana mengenali objektifikasi. Pendidikan gender yang adil harus masuk ke kurikulum formal dan nonformal.
  2. Perempuan Perlu Didukung Jadi Subjek Bukan Obyek
Baca juga:  Herdiansyah (Dado): Sosok Tangguh yang Setia di Garis Rakyat

Kita perlu memberi panggung bagi perempuan untuk hadir sebagai pembuat narasi, bukan sekedar penghias visual. Dorong perempuan menjadi jurnalis, kreator konten yang berkualitas, peneliti, pembicara dan pemimpin. Representasi yang sehat menciptakan budaya yang sehat.

  1. Publik Harus Lebih Kritis

Kita sebagai pengguna media sosial punya tanggung jawab besar. Jangan dukung konten yang menjual tubuh perempuan. Jangan ikut menyebarkan. Laporkan. Dan lebih penting lagi dukung konten yang memberdayakan, mengedukasi, dan menghormati martabat manusia.

Objektifikasi bukan hanya soal pakaian yang terbuka atau konten yang sensual. Ia adalah pola pikir yang mereduksi manusia menjadi komoditas. Ia adalah budaya yang menyamakan nilai perempuan dengan jumlah likes dan komentar.

Sudah saatnya kita menolak budaya ini. Tidak dengan kemarahan kosong, tapi dengan kesadaran kritis, kerja nyata, dan solidaritas yang kuat. Dunia digital bisa menjadi ruang yang lebih sehat dan setara jika kita mau bekerja bersama untuk mengubahnya.

Perempuan bukan barang dagangan. Mereka adalah pemilik narasi. Dan sekarang, saatnya kita mendengarkan mereka bukan hanya menatap tubuh mereka.

Jika kita ingin masa depan digital yang beradab, kita harus mulai dari sekarang: membongkar cara kita melihat, berbicara, dan memperlakukan perempuan di dunia maya.

Kurs Rupiah Hari Ini
Kurs Rupiah Hari Ini
Update nilai tukar beberapa mata uang
USD
USD
Beli
16.365,00
Jual
16.425,00
Sumber: BCA e-Rate (data dapat berubah)
Slider Foto Otomatis
Related post
MAN KOPAR Expo 2026 Sukses Digelar, MAN Kota Pariaman Perkuat Peran sebagai Pusat Lahirnya Generasi Unggul

Redaksi

15 Apr 2026

PARIAMAN, Vokalpublika.com – Gelaran MAN KOPAR Expo 2026 kembali membuktikan eksistensi MAN Kota Pariaman sebagai salah satu motor penggerak pembinaan prestasi dan karakter pelajar di Sumatera Barat. Ajang tahunan ini tidak sekadar menjadi kompetisi, tetapi juga ruang strategis bagi pelajar untuk mengembangkan potensi diri. Diikuti ratusan peserta dari tingkat SMP/MTs hingga SMA/MA, kegiatan ini berlangsung …

Melalui Peternakan Ayam Kampung di Kabupaten Karimun.PT.Timah Perkuat Ekonomi Lokal.

Redaksi

15 Apr 2026

Karimun– vokalpublika.com. PT. Timah (Persero) Tbk terus menunjukkan komitmennya dalam pemberdayaan masyarakat melalui program pengembangan sektor peternakan. Hal ini merupakan langkah perusahaan untuk mendukung ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat. Kali ini, perusahaan mendukung Kelompok Unggas Sejahtera di Desa Sawang Laut Kobel, Kecamatan Kundur Barat, dalam mengembangkan usaha peternakan ayam yang kini mulai memberikan dampak ekonomi …

PT Rizki Group Propertyndo Raih Penghargaan Pengembang Subsidi Terbaik 2026, Dicky Pawang: Kami Akan Terus Memprioritaskan Dua Aspek Fundamental, Kualitas dan Kepastian Legalitas

Alwi Assagaf

15 Apr 2026

PEMALANG, Vokalpublika.com – PT Rizki Group Propertyndo (PT RGP) kembali memperkuat dominasinya di sektor properti Jawa Tengah dengan memborong dua penghargaan prestisius dalam ajang Developer Gathering 2026 yang diselenggarakan oleh PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN).​Dalam seremoni yang berlangsung di Khas Hotel Pekalongan pada Selasa (14/4), PT RGP sukses mengamankan dua gelar utama, ​The …

Polres Jember Ungkap Dugaan Penimbunan Pertalite, Tersangka Gunakan Mobil ModifikasiPatroli Sergap NewsPatroli Sergap News Peristiwa

Redaksi

15 Apr 2026

JEMBER,vokalpublika.com– Praktik penimbunan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi kembali berhasil diungkap oleh jajaran Polres Jember Polda Jawa Timur. Seorang pria berinisial FS, warga Kecamatan Silo, diamankan petugas saat kedapatan melakukan aktivitas mencurigakan di sebuah SPBU pada Minggu (13/4/2026) malam sekitar pukul 21.00 WIB. Kasus ini terungkap setelah Polisi menerima laporan dari masyarakat yang resah terhadap …

Dana BOS dan Jabatan Dipersoalkan, Pemkab Nias Selatan Mulai Bongkar Dugaan Nepotisme

Redaksi

15 Apr 2026

Nias Selatan, vokalpubika.com — Pemerintah Kabupaten Nias Selatan akhirnya mengambil langkah resmi menyikapi polemik dugaan konflik kepentingan dan minimnya transparansi pengelolaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di SD Negeri 078445 Umbu Bitaha. Melalui pernyataan resminya, pemerintah daerah menegaskan komitmennya untuk menjaga tata kelola pendidikan yang bersih, akuntabel, dan bebas dari praktik yang berpotensi melanggar prinsip …

Prestasi Membanggakan! Atlet Karate Polrestabes Surabaya Borong Medali di Kejurda INKANAS 2026

Redaksi

15 Apr 2026

Surabaya, vokalpublika.com– Suasana apel jam pimpinan di lingkungan Polrestabes Surabaya, Senin (13/4/2026), berlangsung penuh kebanggaan. Momentum ini tidak hanya menjadi agenda rutin, tetapi juga diwarnai dengan pemberian penghargaan kepada atlet karate kontingen Polrestabes Surabaya yang berhasil mengukir prestasi gemilang dalam Kejurda INKANAS Piala Kapolda Jawa Timur 2026. Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Dr. Luthfie Sulistiawan, dalam …

Sumber Informasi Vokalpublika.com
x
x