Home » Berita » Dari Iklan ke Konten Viral Objektifikasi Perempuan di Media Digital

Dari Iklan ke Konten Viral Objektifikasi Perempuan di Media Digital

Redaksi 03 Oct 2025 717

Oleh: Ermelinda Noh Wea

Advertisement
ADVERTISEMENT

Dulu, tubuh perempuan hadir dalam iklan sabun, parfum, hingga mobil. Tidak untuk didengarkan, tetapi untuk dipandang. Ia menjadi pemikat mata, penggoda perhatian, dan akhirnya dijadikan alat jual beli. Kini, wajah-wajah baru dari praktik itu hadir di TikTok, Instagram Reels, YouTube dan segala bentuk konten digital lebih cepat, lebih masif, dan lebih halus.

Perempuan tetap jadi objek. Tapi kini, objektifikasi itu disulap menjadi hiburan, tren viral, atau bahkan pilihan personal. Perubahannya hanya pada medium, bukan pada nilai.

Perubahan media dari televisi ke digital tidak serta-merta mengubah cara perempuan direpresentasikan. Justru, dengan munculnya algoritma yang bekerja berdasarkan perhatian, eksploitasi tubuh perempuan mengalami percepatan dan pendalaman. Konten-konten yang menonjolkan sensualitas atau memperlihatkan tubuh perempuan seringkali mendapatkan engagement tinggi views, likes, shares, dan komentar yang membludak.

Algoritma menyukai apa yang membuat orang lama menatap layar. Dan tubuh perempuan, sayangnya, masih menjadi aset visual paling menguntungkan.

Banyak konten viral yang memperlihatkan perempuan menari dengan pakaian minim, atau video prank dengan unsur seksual terselubung, yang nyaris tidak bisa dibedakan dari bentuk pelecehan. Ironisnya, video seperti ini tidak hanya dibuat oleh laki-laki dan perempuanpun, seringkali tanpa sadar, ikut dalam siklus eksploitasi demi eksistensi digital.

Apakah ini bentuk kebebasan berekspresi? Atau justru bentuk baru dari tekanan sosial yang terselubung?

Objektifikasi perempuan bukan hanya tentang konten sensual. Ia hadir dalam narasi yang terus-menerus mengecilkan perempuan menjadi tampilan luar, kulit, tubuh, bibir, ukuran pinggang, bentuk payudara, gaya berpakaian. Perempuan yang tidak memenuhi standar ini dikomentari. Perempuan yang mencoba bicara soal hak tubuhnya, dibungkam atau diolok.

Baca juga:  Aksi Damai Mahasiswa Bekasi di Kantor DPRD Kota Bekasi

Di TikTok, banyak konten yang mengaku review fashion tapi sebenarnya hanya mengkritik bentuk tubuh perempuan lain. Di Instagram, para selebritas muda harus bersaing dalam menampilkan bentuk tubuh ideal demi tetap relevan di mata followers. Di YouTube, perempuan berpakaian seksi sering digunakan untuk meningkatkan klik meski isi videonya tidak relevan sama sekali.

Komentar-komentar seperti makin cantik sekarang, Body goals banget”, dll Semuanya menunjukkan bahwa tubuh perempuan adalah ruang publik yang bisa dikomentari bebas. Objektifikasi menjadi budaya. Dan budaya yang dinormalisasi adalah kekerasan yang dilegalkan.

Ada argumen yang sering dipakai untuk membela fenomena ini “Kan dia sendiri yang mengunggah, atau Tubuhnya, haknya”. Di sinilah letak jebakan yang lebih rumit. Ketika perempuan merasa harus terus menyesuaikan diri dengan algoritma demi relevansi sosial, maka apa yang tampak sebagai pilihan bisa jadi adalah paksaan tidak kasat mata.

Tekanan untuk selalu tampil menarik, seksi, dan sesuai standar kecantikan tidak muncul dari ruang hampa. Ia adalah hasil konstruksi sosial yang diproduksi dan diperkuat oleh media digital, iklan, dan budaya populer selama puluhan tahun.

Kita harus mulai mempertanyakan apakah benar perempuan bebas dalam ruang digital, atau justru makin dikungkung oleh standar yang semakin tidak masuk akal?

Baca juga:  Sat Lantas Polres Lampung Barat Gelar Police Go To School dalam Rangka HUT Lalu Lintas Polri ke-70

Objektifikasi perempuan di media digital tidak berhenti di layar. Ia menjalar ke dunia nyata ke dalam komentar yang melecehkan, pesan-pesan pribadi bernada seksual, hingga kekerasan berbasis gender secara langsung.

Studi menunjukkan bahwa paparan berlebih terhadap konten-konten yang menjadikan perempuan sebagai objek bisa menurunkan kepercayaan diri, meningkatkan gangguan citra tubuh, dan mendorong perilaku ekstrem seperti diet berlebihan, dismorfia tubuh, bahkan depresi.

Di sisi lain, lelaki yang tumbuh dengan konten seperti ini rentan menganggap perempuan sebagai objek seksual semata, bukan manusia utuh. Ini adalah benih dari kekerasan berbasis gender yang terus tumbuh di masyarakat.

Masalah ini tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Diperlukan kerja bersama dari berbagai lini

  1. Platform Digital Harus Bertanggung Jawab

Instagram, TikTok, YouTube, dan platform lainnya perlu meninjau ulang algoritma yang memberi keuntungan pada konten seksis dan objektifikatif. Moderasi konten harus lebih ketat dan transparan. Edukasi kreator konten tentang etika digital harus jadi prioritas.

  1. Pendidikan Literasi Media Sejak Dini Anak-anak dan remaja perlu dikenalkan pada literasi media, bagaimana membedakan konten sehat dan tidak, bagaimana memahami manipulasi visual, dan bagaimana mengenali objektifikasi. Pendidikan gender yang adil harus masuk ke kurikulum formal dan nonformal.
  2. Perempuan Perlu Didukung Jadi Subjek Bukan Obyek
Baca juga:  Ulang Tahun ke-57, Amsakar Achmad Dikenang Sebagai Sosok Pemimpin Penuh Dedikasi

Kita perlu memberi panggung bagi perempuan untuk hadir sebagai pembuat narasi, bukan sekedar penghias visual. Dorong perempuan menjadi jurnalis, kreator konten yang berkualitas, peneliti, pembicara dan pemimpin. Representasi yang sehat menciptakan budaya yang sehat.

  1. Publik Harus Lebih Kritis

Kita sebagai pengguna media sosial punya tanggung jawab besar. Jangan dukung konten yang menjual tubuh perempuan. Jangan ikut menyebarkan. Laporkan. Dan lebih penting lagi dukung konten yang memberdayakan, mengedukasi, dan menghormati martabat manusia.

Objektifikasi bukan hanya soal pakaian yang terbuka atau konten yang sensual. Ia adalah pola pikir yang mereduksi manusia menjadi komoditas. Ia adalah budaya yang menyamakan nilai perempuan dengan jumlah likes dan komentar.

Sudah saatnya kita menolak budaya ini. Tidak dengan kemarahan kosong, tapi dengan kesadaran kritis, kerja nyata, dan solidaritas yang kuat. Dunia digital bisa menjadi ruang yang lebih sehat dan setara jika kita mau bekerja bersama untuk mengubahnya.

Perempuan bukan barang dagangan. Mereka adalah pemilik narasi. Dan sekarang, saatnya kita mendengarkan mereka bukan hanya menatap tubuh mereka.

Jika kita ingin masa depan digital yang beradab, kita harus mulai dari sekarang: membongkar cara kita melihat, berbicara, dan memperlakukan perempuan di dunia maya.

Kurs Rupiah Hari Ini
Kurs Rupiah Hari Ini
Update nilai tukar beberapa mata uang
USD
USD
Beli
16.365,00
Jual
16.425,00
Sumber: BCA e-Rate (data dapat berubah)

FIFA World Cup 2026

Pesta Sepak Bola Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat

0 Hari
0 Jam
0 Menit
0 Detik

48 Negara | 11 Juni - 19 Juli 2026

Related post
​Cemburu Video TikTok, Pria di Bantarbolang Dilaporkan Usai Diduga Aniaya Pasangannya

Alwi Assagaf

25 Jul 2026

Pemalang, Vokalpublika.com — Kasus dugaan penganiayaan berlatar belakang kecemburuan dilaporkan ke Polsek Bantarbolang, Polres Pemalang, Jawa Tengah, pada Jumat (24/7/2026) malam. ADVERTISEMENT ​Korban bernama Dewi Purwati (28), warga Desa Pegiringan, Kecamatan Bantarbolang, melaporkan pasangannya, Muhamad Syaifulloh (31), atas dugaan tindak kekerasan fisik yang dialaminya.​Berdasarkan surat keterangan pengaduan yang diterima pihak kepolisian pada pukul 22.08 WIB, …

Bangsa Berduka, Putra Terbaik Gugur di Medan Tugas: Ketum FRIC H. Dian Surahman Sampaikan Belasungkawa Mendalam atas Gugurnya Bripka (Anumerta) Fredy Lukas Awes

Redaksi

25 Jul 2026

Vokalpublika.com – Jakarta, 24 Juli 2026 – Duka mendalam kembali menyelimuti keluarga besar Kepolisian Negara Republik Indonesia. Salah satu putra terbaik bangsa, Bripka (Anumerta) Fredy Lukas Awes, personel Satgas Operasi Damai Cartenz-2026, gugur saat menjalankan tugas negara di Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan. ADVERTISEMENT Kepergian almarhum tidak hanya meninggalkan luka bagi keluarga dan rekan …

Wakil Wali Kota Dicky Chandra Buka Ibing Pasanggiri Se-Priangan Timur, Ketua DPC FRIC Tasikmalaya Tegaskan Dukungan untuk Pelestarian Pencak Silat

Redaksi

25 Jul 2026

Vokalpublika.com – Tasikmalaya-Semangat pelestarian budaya bangsa berpadu dengan pembinaan generasi muda mewarnai pelaksanaan Ibing Pasanggiri Se-Priangan Timur DPD PPSI Kota Tasikmalaya yang digelar hari ini (24/7/2026). ADVERTISEMENT Kegiatan bergengsi tersebut secara resmi dibuka oleh Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Dicky Chandra, dan dihadiri berbagai tokoh, insan pencak silat, serta elemen masyarakat yang memiliki komitmen terhadap pelestarian …

Bulutangkis Kapolri Cup 2026 Siap Digelar, Libatkan Atlet Muda hingga Penyandang Disabilitas

Redaksi

25 Jul 2026

Vokalpublika.com – Jakarta – Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) kembali menggelar Kejuaraan Bulu Tangkis Kapolri Cup 2026 dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-80. Mengusung tema “Membangun Prestasi untuk Negeri”, turnamen ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80 dengan tema besar “Polri untuk Masyarakat.” ADVERTISEMENT Kejuaraan Bulu Tangkis Kapolri Cup 2026 akan berlangsung pada …

​Perkuat Budaya Gotong Royong, ASN Kecamatan Pemalang Bebenah Demi Kenyamanan Masyarakat

Alwi Assagaf

24 Jul 2026

Pemalang, Vokalpublika.com — Pemerintah Kecamatan Pemalang menegaskan komitmennya dalam menghadirkan lingkungan kerja dan pelayanan publik yang representatif melalui kegiatan kerja bakti rutin “Jumat Bersih”, Jumat (24/7/2026). ADVERTISEMENT ​Kegiatan korve yang dipusatkan di seluruh area Kantor Kecamatan Pemalang tersebut diikuti oleh seluruh jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN), staf, dan karyawan tanpa terkecuali. ​Aksi ini bukan sekadar …

​Sinergi Pemerintah Kecamatan Ulujami dan Warga Kertosari: Dorong Kebersihan Lingkungan dan Serap Aspirasi Desa

Alwi Assagaf

24 Jul 2026

Pemalang, Vokalpublika.com – Sekretaris Kecamatan Ulujami memimpin aksi gotong royong kebersihan lingkungan di Desa Kertosari. Kegiatan ini melibatkan staf kecamatan, ASN Dinas Satu Atap Ulujami, serta warga setempat sebagai bentuk kepedulian bersama terhadap kebersihan, kesehatan, dan keindahan wilayah, Jumat 24 Juli 2026. ADVERTISEMENT ​Desa Kertosari dikenal memiliki potensi ekonomi dan pariwisata yang kuat. Selain menjadi …

Sumber Informasi Vokalpublika.com
x
x