Home » Berita » Dari Iklan ke Konten Viral Objektifikasi Perempuan di Media Digital

Dari Iklan ke Konten Viral Objektifikasi Perempuan di Media Digital

Redaksi 03 Oct 2025 679

Oleh: Ermelinda Noh Wea

FIFA World Cup 2026

Pesta Sepak Bola Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat

0 Hari
0 Jam
0 Menit
0 Detik

48 Negara | 11 Juni - 19 Juli 2026

Dulu, tubuh perempuan hadir dalam iklan sabun, parfum, hingga mobil. Tidak untuk didengarkan, tetapi untuk dipandang. Ia menjadi pemikat mata, penggoda perhatian, dan akhirnya dijadikan alat jual beli. Kini, wajah-wajah baru dari praktik itu hadir di TikTok, Instagram Reels, YouTube dan segala bentuk konten digital lebih cepat, lebih masif, dan lebih halus.

Perempuan tetap jadi objek. Tapi kini, objektifikasi itu disulap menjadi hiburan, tren viral, atau bahkan pilihan personal. Perubahannya hanya pada medium, bukan pada nilai.

Perubahan media dari televisi ke digital tidak serta-merta mengubah cara perempuan direpresentasikan. Justru, dengan munculnya algoritma yang bekerja berdasarkan perhatian, eksploitasi tubuh perempuan mengalami percepatan dan pendalaman. Konten-konten yang menonjolkan sensualitas atau memperlihatkan tubuh perempuan seringkali mendapatkan engagement tinggi views, likes, shares, dan komentar yang membludak.

Algoritma menyukai apa yang membuat orang lama menatap layar. Dan tubuh perempuan, sayangnya, masih menjadi aset visual paling menguntungkan.

Banyak konten viral yang memperlihatkan perempuan menari dengan pakaian minim, atau video prank dengan unsur seksual terselubung, yang nyaris tidak bisa dibedakan dari bentuk pelecehan. Ironisnya, video seperti ini tidak hanya dibuat oleh laki-laki dan perempuanpun, seringkali tanpa sadar, ikut dalam siklus eksploitasi demi eksistensi digital.

Apakah ini bentuk kebebasan berekspresi? Atau justru bentuk baru dari tekanan sosial yang terselubung?

Objektifikasi perempuan bukan hanya tentang konten sensual. Ia hadir dalam narasi yang terus-menerus mengecilkan perempuan menjadi tampilan luar, kulit, tubuh, bibir, ukuran pinggang, bentuk payudara, gaya berpakaian. Perempuan yang tidak memenuhi standar ini dikomentari. Perempuan yang mencoba bicara soal hak tubuhnya, dibungkam atau diolok.

Baca juga:  PC LAZISNU Kota Probolinggo Berikan Bantuan Kepada Pemuda Penderita Tumor Ganas

Di TikTok, banyak konten yang mengaku review fashion tapi sebenarnya hanya mengkritik bentuk tubuh perempuan lain. Di Instagram, para selebritas muda harus bersaing dalam menampilkan bentuk tubuh ideal demi tetap relevan di mata followers. Di YouTube, perempuan berpakaian seksi sering digunakan untuk meningkatkan klik meski isi videonya tidak relevan sama sekali.

Komentar-komentar seperti makin cantik sekarang, Body goals banget”, dll Semuanya menunjukkan bahwa tubuh perempuan adalah ruang publik yang bisa dikomentari bebas. Objektifikasi menjadi budaya. Dan budaya yang dinormalisasi adalah kekerasan yang dilegalkan.

Ada argumen yang sering dipakai untuk membela fenomena ini “Kan dia sendiri yang mengunggah, atau Tubuhnya, haknya”. Di sinilah letak jebakan yang lebih rumit. Ketika perempuan merasa harus terus menyesuaikan diri dengan algoritma demi relevansi sosial, maka apa yang tampak sebagai pilihan bisa jadi adalah paksaan tidak kasat mata.

Tekanan untuk selalu tampil menarik, seksi, dan sesuai standar kecantikan tidak muncul dari ruang hampa. Ia adalah hasil konstruksi sosial yang diproduksi dan diperkuat oleh media digital, iklan, dan budaya populer selama puluhan tahun.

Kita harus mulai mempertanyakan apakah benar perempuan bebas dalam ruang digital, atau justru makin dikungkung oleh standar yang semakin tidak masuk akal?

Baca juga:  UPC dan JRMK Surati Pemprov DKJ, Menolak Privatisasi PAM Jaya

Objektifikasi perempuan di media digital tidak berhenti di layar. Ia menjalar ke dunia nyata ke dalam komentar yang melecehkan, pesan-pesan pribadi bernada seksual, hingga kekerasan berbasis gender secara langsung.

Studi menunjukkan bahwa paparan berlebih terhadap konten-konten yang menjadikan perempuan sebagai objek bisa menurunkan kepercayaan diri, meningkatkan gangguan citra tubuh, dan mendorong perilaku ekstrem seperti diet berlebihan, dismorfia tubuh, bahkan depresi.

Di sisi lain, lelaki yang tumbuh dengan konten seperti ini rentan menganggap perempuan sebagai objek seksual semata, bukan manusia utuh. Ini adalah benih dari kekerasan berbasis gender yang terus tumbuh di masyarakat.

Masalah ini tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Diperlukan kerja bersama dari berbagai lini

  1. Platform Digital Harus Bertanggung Jawab

Instagram, TikTok, YouTube, dan platform lainnya perlu meninjau ulang algoritma yang memberi keuntungan pada konten seksis dan objektifikatif. Moderasi konten harus lebih ketat dan transparan. Edukasi kreator konten tentang etika digital harus jadi prioritas.

  1. Pendidikan Literasi Media Sejak Dini Anak-anak dan remaja perlu dikenalkan pada literasi media, bagaimana membedakan konten sehat dan tidak, bagaimana memahami manipulasi visual, dan bagaimana mengenali objektifikasi. Pendidikan gender yang adil harus masuk ke kurikulum formal dan nonformal.
  2. Perempuan Perlu Didukung Jadi Subjek Bukan Obyek
Baca juga:  Herdiansyah (Dado): Sosok Tangguh yang Setia di Garis Rakyat

Kita perlu memberi panggung bagi perempuan untuk hadir sebagai pembuat narasi, bukan sekedar penghias visual. Dorong perempuan menjadi jurnalis, kreator konten yang berkualitas, peneliti, pembicara dan pemimpin. Representasi yang sehat menciptakan budaya yang sehat.

  1. Publik Harus Lebih Kritis

Kita sebagai pengguna media sosial punya tanggung jawab besar. Jangan dukung konten yang menjual tubuh perempuan. Jangan ikut menyebarkan. Laporkan. Dan lebih penting lagi dukung konten yang memberdayakan, mengedukasi, dan menghormati martabat manusia.

Objektifikasi bukan hanya soal pakaian yang terbuka atau konten yang sensual. Ia adalah pola pikir yang mereduksi manusia menjadi komoditas. Ia adalah budaya yang menyamakan nilai perempuan dengan jumlah likes dan komentar.

Sudah saatnya kita menolak budaya ini. Tidak dengan kemarahan kosong, tapi dengan kesadaran kritis, kerja nyata, dan solidaritas yang kuat. Dunia digital bisa menjadi ruang yang lebih sehat dan setara jika kita mau bekerja bersama untuk mengubahnya.

Perempuan bukan barang dagangan. Mereka adalah pemilik narasi. Dan sekarang, saatnya kita mendengarkan mereka bukan hanya menatap tubuh mereka.

Jika kita ingin masa depan digital yang beradab, kita harus mulai dari sekarang: membongkar cara kita melihat, berbicara, dan memperlakukan perempuan di dunia maya.

Kurs Rupiah Hari Ini
Kurs Rupiah Hari Ini
Update nilai tukar beberapa mata uang
USD
USD
Beli
16.365,00
Jual
16.425,00
Sumber: BCA e-Rate (data dapat berubah)
Related post
PT DPM Dukung Festival Pentas Seni Multietnis, Yang di Gelar Oleh FKPHUPD, Nomor Urut 3 Raih Juara I

Clara T S

06 Jun 2026

SIDIKALANG –vokalpublika.comDukungan PT Dairi Prima Mineral (DPM) terhadap pelestarian lingkungan dan budaya kembali ditunjukkan melalui Festival Pentas Seni dan Musik Daerah Multietnis dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang berlangsung di Gedung Djauli Manik, Jalan SM Raja, Sidikalang, Sabtu (6/6/2026). FIFA World Cup 2026 Pesta Sepak Bola Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat 0 …

Hari Lingkungan Hidup 2026: Rob Rendam Kantor Desa dan Rumah Warga, Pemdes Ketapang Tagih Solusi Nyata Pemerintah

Alwi Assagaf

06 Jun 2026

Pemalang, Vokalpublika.com – Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi refleksi kelam bagi masyarakat pesisir utara Kabupaten Pemalang. Pada Sabtu (6/6/2026) sore, banjir luapan air laut (rob) kembali merendam Desa Ketapang, Kecamatan Ulujami, dengan ketinggian mencapai lutut orang dewasa. FIFA World Cup 2026 Pesta Sepak Bola Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat 0 Hari 0 Jam …

Hari Lingkungan Hidup 2026, Bupati Pemalang Ajak Warga Gerak Cepat Tanggulangi Krisis Iklim dan Rob

Alwi Assagaf

06 Jun 2026

PEMALANG, Vokalpublika.com – Pemerintah Kabupaten Pemalang memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 dengan aksi nyata penanaman 3.000 bibit mangrove di Desa Pesantren, Kecamatan Ulujami, Sabtu (6/6/2026). Mengusung tema “Saatnya Bekerja Untuk Iklim”, kegiatan ini dipimpin langsung oleh Bupati Pemalang Anom Widiyantoro didampingi Ketua TP PKK, jajaran OPD, BUMD, serta berbagai komunitas peduli lingkungan. FIFA World …

Festival Pentas Seni dan Musik Daerah Meriahkan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Satukan Komitmen Lestarikan Alam dan Budaya di Dairi

Clara T S

06 Jun 2026

Sidikalang, Dairi – vokalpunlika.comPeringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Kabupaten Dairi berlangsung meriah melalui Festival Pentas Seni dan Musik Daerah yang mengusung tema “Merajut Persaudaraan Menuju Kemajuan” dengan slogan “Lestarikan Alam, Lestarikan Budaya”. Kegiatan yang disponsori oleh PT Dairi Prima Mineral (DPM) ini menjadi wadah memperkuat kepedulian terhadap lingkungan sekaligus melestarikan kekayaan budaya lokal. …

Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Camat Ulujami Dampingi Bupati Pemalang Tanam 3.000 Mangrove di Pesantren

Alwi Assagaf

06 Jun 2026

PEMALANG, Vokalpublika.com – Bupati Pemalang, Anom Widiyantoro, menyerahkan bantuan sekaligus menanam secara simbolis 3.000 bibit mangrove di Desa Pesantren, Kecamatan Ulujami, Sabtu (6/6/2026). Aksi dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 ini turut didampingi oleh Camat Ulujami, Waluyo, serta jajaran Forkopimda dan berbagai komunitas lingkungan. FIFA World Cup 2026 Pesta Sepak Bola Kanada, Meksiko, …

Polres Tangsel Respons Cepat Informasi Peredaran Obat-obatan, Penyelidikan Dilakukan

Redaksi

06 Jun 2026

Tanggerang Selatan, vokalpublika.com– Menindaklanjuti informasi terkait dugaan peredaran obat-obatan di wilayah Tangerang Selatan, awak media melakukan konfirmasi melalui pesan WhatsApp kepada Kasi Humas Polres Tangerang Selatan, Ipda Yudi, pada Sabtu (6/6/2026). FIFA World Cup 2026 Pesta Sepak Bola Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat 0 Hari 0 Jam 0 Menit 0 Detik 48 Negara | 11 …

Sumber Informasi Vokalpublika.com
x
x